Manejemen Peningkatan Mutu

Ini Makalah Seminar kelompok saya di matakuliah Manejemen Pendidikan. Semoga bermanfaat. Terimakasih.

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Puji Syukur Kehadirat Allah SWT  karena berkat Rahmat dan Hidayah-NYA lah, kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “MPMBS dan TQM” ini dengan baik.

Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengelolaan Pendidikan dengan harapan mahasiswa-mahasisiwi betul-betul dapat menguasai mata kuliah ini.

Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada bapak Dr. Sudadio, M.Pd selaku dosen mata kuliah Pengelolaan Pendidikan serta semua pihak yang telah mendukung dalam pembuatan makalah ini sebagai petunjuk dan pedoman bagi mahasiswa-mahasisiwi untuk melatih kemampuan dalam mata kuliah ini.

Penyusun menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan dalam makalah ini. Namun penulis telah berusaha dengan sebaik-baiknya. Kritik dan saran yang membangun diharapkan untuk kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca umumnya dan bagi penyusun khususnya.

Serang, April 2011

Penyusun

 

 

 

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………………………………………………………

Daftar Isi………………………………………………………………………………………………………….

BAB 1 Pendahuluan

1.1.Latarbelakang masalah

1.2.Permasalahan

1.3.Tujuan penulisan

1.4.Metode penulisan

BAB 2 Pembahasan

2.1

 

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1.     Latar Belakang

Salah satu permasalahan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah. Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional, misalnya pengembangan kurikulum nasional dan lokal, peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan, pengadaan buku dan alat pelajaran, pengadaan dan perbaikan sarana dan prasarana pendidikan, dan peningkatan mutu manajemen sekolah.

Dari berbagai pengamatan dan analisis, sedikitnya ada tiga faktor yang menyebabkan mutu pendidikan tidak mengalami peningkatan secara merata.

Faktor pertama, kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan nasional menggunakan pendekatan education production function atau input-output analysis yang tidak dilaksanakan secara konsekuen.

Faktor kedua, penyelenggaraan pendidikan nasional dilakukan secara birokratik-sentralistik sehingga menempatkan sekolah sebagai penyelenggara pendidikan sangat tergantung pada keputusan birokrasi yang mempunyai jalur yang sangat panjang dan kadang-kadang kebijakan yang dikeluarkan tidak sesuai dengan kondisi sekolah setempat.

Faktor ketiga, peran serta warga sekolah khususnya guru dan peranserta masyarakat khususnya orangtua siswa dalam penyelenggaraan pendidikan selama ini sangat minim.

Berdasarkan kenyataan-kenyataan tersebut diatas, tentu saja perlu dilakukan upaya-upaya perbaikan, salah satunya adalah melakukan reorientasi penyelenggaraan pendidikan, yaitu dari manajemen peningkatan mutu berbasis pusat menuju manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah yang menggunakan metode Total Quality Management (TQM).

1.2.      Permasalahan

Permasalahan yang muncul berdasarkan topik yang ada diantaranya:

  • Apa yang dimaksud dengan MPMBS dan TQM?
  • Bagaimanakah sistem MPMBS dan TQM itu sendiri?
  • Bagaimanakah keterkaitan antara MPMBS dan TQM?
  • Bagaimanakah penerapan MPMBS dan TQM yang baik?
  • Mengapa kedua sistem itu dibutuhkan untuk membangun mutu sekolah yang baik?

1.3. Tujuan

Penyusunan makalah ini bertujuan untuk memberikan informasi/pengetahuan secara mendalam mengenai konsep MPMBS dan TQM yang diterapkan dalam pendidikan di Indonesia.

1.4. Metode Penulisan

Metode yang digunakan penyusun dalam menyusun makalah ini menggunakan metode study pustaka.

BAB II

 

  1. MANAJEMEN PENINGKATAN MUTU BERBASIS SEKOLAH

2.1.Pengertian Manajeman Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah          

Manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (MPMBS) dapat diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah, memberikan fleksibilitas/keluwesan-keluwesan kepada sekolah, dan mendorong partisipasi secara langsung warga sekolah dan masyarakat. Manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah merupakan hasil elaborasi dari “total quality management di Indonesia” di Indonesia dinamakan sebagai Manajemen Mutu Terpadu. MPMBS merupakan bagian dari manajemen bebasis sekolah (MBS). Jika MBS bertujuan untuk meningkatkan semua kinerja sekolah (efektivitas, kualitas/mutu, efesiensi, inovasi, relevansi, dan pemeratan serta akses pendidikan), maka MPMBS lebih difokuskan pada peningkatan mutu. Hal ini didasari oleh kenyataan bahwa mutu pendidikan nasional kita saat ini sangat  memperhatinkan sehingga memerlukan perhatian yang lebih serius. Itulah sebabnya MPMBS lebih ditekankan dari pada MBS untuk saat ini. Pada saatnya nanti MPMBS akan menjadi MBS.

MPMBS bertujuan untuk mendirikan atau memberdayakan sekolah melalui pemberian kewenangan (otonomi) kepada sekolah, pemberian fleksibilitas yang lebih besar kepada sekolah untuk mengelola sumberdaya sekolah, dan mendorong partisipasi warga sekolah dan masyarakat untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan. Lebih rincinya, MPMBS bertujuan untuk, diantaranya:

  1. Meningkatkan mutu pendidikan melalui peingkatan kemandirian, fleksibilitas, partisipasi, keterbukaan, kerjasama, akuntabilitas, sustainabilitas, dan inisiatif sekolah dalam mengelola, memanfaatkan, dan memberdayakan sumberdaya yang tersedia.
  2. Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan melalui pengembalian keputusan bersama.
  3.  Meningkatkan tanggungjawab sekolah kepada orang tua, masyarakat, dan pemerintah tentang mutu sekolahnya.
  4. Meningkatkan kompetensi yang sehat antar sekolah tentang mutu pendidikan yang akan dicapai.
  5. Memacu inisiatif / kreatif sekolah dalam meningkatkan mutu.
  6. Mendorong fleksisbilitas untuk mengadakan dan memanfaatkan sumber daya sekolah secara optimal untuk meningkatkan mutu pendidikan.
  7. Mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya.
  8. Sekolah lebih mengetahui kebutuhan lembaganya.
  9. Penambilan keputusan secara tepat.
  10. Penggunaan sumber daya pendidikan lebih efisien dan efektif bilamana di control oleh masyarakat setempat.

Sekolah yang mandiri atau berdaya memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Tingkat kemandirian tinggi / tingkat ketergantungan rendah.
  • Bersifat adaptif dan antisipatif / proaktif sekaligus.
  • Memiliki jiwa kewirausahaan tinggi (ulet, inovatif, gigih, berani mengambil resiko, dan sebagainya).
  • Bertanggungjawab terhadap kinerja sekolah
  • Memiliki kontrol yang kuat terhadap kondisi kerja, komtmen yang tinggi terhadap dirinya
  • Prestasi merupakan acuan dari penilaiannya.

 

2.2.Karakteristik MPMBS

Dalam menguraikan karakteristik MPMBS, pendekatan system yaitu input-prose-output digunakan untuk memandunya. Hal ini didasari oleh pengertian bahwa sekolah merupakan sebuah sistem, sehingga penguraian karakteristik MPMBS mendasarkan pada input, proses, dan output.

  1. 1.      Output yang diharapkan

Output disini adalah prestasi sekolah yang dihasilkan oleh proses pembelajaran dan manajemen di sekolah pada umumnya. Ouput ini bisa di bagi menjadi dua yaitu, output berupa prestasi akademik (academic achievement) dan output berupa prestasi nonakademik (non-academic achievement).

  1. 2.      Proses

Sekolah yang efektif pada umumnya memiliki sejumlah karakteristik proses sebagai berikut antara lain:

ü  Proses belajar dan mengajar yang efektifitasnya tinggi

ü  Kepemimpinan sekolah yang kuat

ü  Lingkungan sekolah yang aman dan tertib

ü  Pengelolaan tenaga pendidikan yang efektif

ü  Sekolah memiliki budaya mutu

ü  Eskolah memiliki “Teamwork” yang kompak, cerdas dan dinamis

  1. 3.      Input Pendidikan

Sekolah yang efektif pada umumnya memiliki sejumlah karakteristik input sebagai berikut:

  • Memiliki kebijakan, tujuan, dan sasaran mutu yang jelas
  • Sumberdaya tersedia dan siap
  • Staf yang berkompeten dan berdedikasi tinggi
  • Memiliki harapan prestasi tinggi
  • Focus pada pelanggan
  • Input manajemen

2.3.Alasan Diterapkannya MPMBS

MPMBS diterapkan karena beberapa alasan berikut :

  • Dengan pemberian otonomi yang lebih besar kepada sekolah, maka sekolah akan lebih inisiatif/kreatif dalam meningkatkan mutu sekolah.
  • Dengan pemberian fleksibelitas/keluesan-keluesan yang lebih besar kepada sekolah untuk mengelola sumberdayanya, maka sekolah akan lebih luwes dan lincah dalam mengadakan dan memanfaatkan sumberdaya sekolah secara optimal untuk  meningkatkan mutu sekolah.
  • Sekolah lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman bagi dirinya sehingga dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya yang tersedia  untuk memajukan sekolahnya.
  • Sekolah lebih mengetahui kebutuhan lembaganya. Khususnya input pendidikan yang akan dikembangkan dan didayagunakan dalam proses pendidikan sesuai dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik.
  • Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh sekolah lebih cocok untuk memenuhi kebutuhan sekolah  karena pihak sekolahlah yang paling tahu apa yang terbaik bagi sekolahnya.
  • Penggunaan sumberdaya pendidikan lebih efisien dan efektif bilamana dikontrol oleh masyarakat setempat.
  • Keterlibatan semua warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan sekolah menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat.
  • Sekolah dapat bertanggung jawab tentang mutu pendidikan masing-masing kepada pemerintah, orang tua peserta didik, dan masyarakat pada umumnya, sehingga dia akan berupaya semaksimal mungkin untuk melaksanakan dan mencapai sasaran mutu pendidikan yang telah direncanakan.
  • Sekolah dapat melakukan persaingan yang sehat dengan sekolah-sekolah lain untuk  meningkatkan mutu pendidikan melalui upaya-upaya inovatif dengan dukungan orang tua peserta didik, masyarakat, dan pemerintah daerah setempat, dan
  • Sekolah dapat secara cepat merespon aspirasi masyarakat dan lingkungan yang berubah dengan cepat.

2.4.Tahapan Pelaksanaan MPMBS

  1. Melakukan Sosialisasi
  2. Merumuskan Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Situasional
  3. Mengidentifikasi Fungsi – Fungsi yang Diperlukan untuk Mencapai Sasaran
  4. Melakukan Analisis SWOT
  5. Menyusun Rencana dan Program Peningkatan Mutu
  6. Merumuskan Sasaran Mutu Bar

2.5.Monitoring dan Evaluasi

Monitoring dan evaluasi, pada umumnya, menghasilkan informasi yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan. Karena itu monitoring dan evaluasi yang bermanfaat adalah monitoring dan evaluasi yang menghasilkan informasi yang cepat, tepat, dan cukup untuk pengambilan keputusan.

Monitoring dan evaluasi bertujuan untuk mendapatkan berbagai informasi yang dapat digunakan dalam rangka pengambilan keputusan yang dapat digunakan untuk memberi masukan terhadap perbaikan komponen konteks, input, proses, maupun outcomenya.

Konteks sama artinya dengan istilah kebutuhan, evaluasi konteks berarti evalusi tentang kebutuhan.

Input adalah segala “sesuatu” yang harus tersedia dan siap karena dibutuhkan untuk berlangsungnya proses. Secara garis besar, input dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu harapan (visi, misi, tujuan dan sasaran), sumberdaya (SDM dan sumber daya lainnya seperti uang,bahan, peralatan, perlengkapan), dan input manajemen (tugas, rencana, program, regulasi). Esensi evaluasi pada input adalah untuk mendapatkan informasi tentang “Ketersediaan dan Kesiapan” input sebagai prasyarat untuk berlangsungnya proses.

Output adalah hasil nyata dari pelaksanaan MPMBS yang berupa prestasi akademik dan non akademik.

Outcome adalah hasil jangka panjang, yang berbeda dengan output yang hanya mengukur hasil sesaat atau jangka pendek, sedangkan fokus evaluasi outcome adalah pada dampak baik dampak individual, maupun dampak institusional.

Hasil monitoring dan evaluasi dapat digunakan rewards system terhadap individu meningkatkan iklim kompetisi antar sekolah, kepentingan akuntabilitas publik, memperbaiki sistem yang ada secara keseluruhan, dan sekolah dalam mengembangkan dirinya.

2.6.      Strategi Implementasi MBS – MPMBS

Implementasi manajemen berbasis sekolah pada umumnya tidak memerlukan persyarakat khusus, karena pada prinsipnya setiap sekolah dapat dapat dan harus menerapkan manajemen berbasis sekolah yang satu – satunya model manajemen yang ditetapkan dalam PP No.19 tahun 2005 pasal (1), tentang standar pendidikan, atas dasar inilah bagi sekolah dasar dan menengah adalah wajib untuk menerapkan model manajemen ini.

Keadaan ini berbeda dengan implementasi MPMBS, walaupun lingkup dan sasaran otonominya sama akan tetapi MPMBS dalam tahap implementasi memerlukan perhatian dan syarat khusus yaitu adanya kesempurnaan terhadap ruang lingkup yang akan dikelola sebagai bagian otonomi sekolah, adapun alasan perlunya syarat tersebut adalah dalam penilaian mutu haruslah memenuhi standar tertentu, lantas bila yang diotonomikan belum terstandar, berarti secara kasat mata dipastikan tidak berkualitas, maka dengan demikian belum dapat dikelola dengan prinsip-prinsip manajemen mutu. Oleh sebab itu, agar MBS maupun MPMBS dapat diimplementasikan secara optimal, baik di era krisis maupun pada pancakrisis di masa mendatang perlu adanya pengelompokan sekolah berdasarkan tingkat kemampuan manajemen masing-masing.

Dalam pengelompokan sekolah berdasarkan kemampuan manajemen, dengan mempertimbangkan kondisi lokasi dan kualitas sekolah. Dalam hal ini sedikitnya akan ditemui tiga kategori sekolah, yaitu sekolah dengan kategori baik, sedang, dan kurang yang tersebar di lokasi – lokasi terpencil, kecamatan, dan kota. Perencanaan implementasi MBS dan MPMBS harus menuju pada variasi tersebut, dan mempertimbangkan kemampuan sekolah.

2.7.Definisi Mutu dan Kegunaan Mutu

Mutu adalah sifat dari benda dan jasa. Setiap orang  selalu mengharapkan  bahkan menuntut mutu dari orang lain, Ini artinya, mutu bukanlah sesuatu yang baru, karena mutu adalah naluri manusia. Benda dan jasa sebagai produk dituntut mutunya, sehingga orang lain yang menggunakan puas karenanya. Benda dan jasa sebagai hasil kegiatan manusia yang secara sadar  dilakukannya disebut “kinerja”.  Kinerja itulah yang dituntut mutunya, sehingga muncul istilah “mutu kinerja manusia”. Suatu kinerja disebut bermutu jika dapat menemuhi atau melebihi kebutuhan dan harapan pelanggannya.

2.8.Manajemen Mutu Pendidikan.

Manajemen mutu merupakan satu cara dalam mengelola suatu organisasi yang bersifat komprehensif dan terintegrasi. Manajemen mutu diarahkan dalam rangka: (1) Memenuhi kebutuhan konsumen secara konsisten, dan (2) Mencapai peningkatan secara terus menerus dalam setiap aspek aktivitas organisasi (Tenner dan De Toro,1992).

Sasaran yang dituju dari manajemen mutu adalah meningkatkan mutu pekerjaan, memperbaiki produktifitas dan efesiensi melalui perbaikan kinerja dan peningkatan mutu kerja agar menghasilkan produk yang memuaskan atau memenuhi kebutuhan konsumen. Dapat pula dikatakan bahwa hakekat manajemen mutu adalah suatu sistem manajemen yang secara terus menerus mengusahakan dan diarahkan untuk meningkatkan kepuasan konsumen dengan biaya murah.

Dalam bidang pendidikan, manajemen mutu merupakan cara dalam mengatur semua sumber daya pendidikan, yang diarahkan agar semua orang yang terlibat didalamnya melaksanakan tugas dengan penuh semangat dan berpartisipasi dalam perbaikan pelaksanaan pekerjaan sehingga menghasilkan jasa yang sesuai atau melebihi kebutuhan konsumen.

Keberhasilan beberapa konsep manajemen mutu dalam bidang industri telah menyebabkan banyak pengelola organisasi, termasuk organisasi pendidikan untuk menerapkan konsep dan prinsip-prinsipnya, dengan modifikasi sesuai dengan kepentingan. Selain  dalam bidang pendidikanpun, dalam penerapannya memerlukan berbagai perubahan. Menurut Herman dan Herman (1995), perubahan harus dilakukan dalam tiga elemen, yaitu :

1)      Filosofi

2)      Tujuan

3)      Proses.

Dalam upaya merumuskan fokus penjaminan mutu ini, apabila konsep penjaminan mutu ini akan diterapkan, kita bisa menemukan cara lain yang mungkin lebih komprehensif dalam merumuskan fokus, dengan tujuan yang terkait dengan sistem, proses dan hasil pendidikan tersebut terjamin mutunya berdasarkan baku mutu yang telah ditetapkan. Meskipun demikian, perlu dijadikan catatan, bahwa apabila model penjaminan akan diterapkan dalam bidang pendidikan, maka diperlukan adanya hal-hal sebagai berikut :

1)      Komitmen

2)      Penilaian kebutuhan

3)      Perencanaan strategik.

4)      Penyusunan rencana taktis.

5)      Penilaian kemajuan.

 

2.9.Strategi Peningkatan Mutu Pendidikan

Strategi adalah tindakan utama yang terpilih untuk mewujudkan visi organisasi melalui misi (Mulyadi, 2001 : 72). Dengan demikian, strategi merupakan pola pengambilan keputusan dalam mewujudkan visi organisasi. Dengan tindakan berpola, perusahaan dapat menggerakan dan mengarahkan seluruh sumber daya organisasi secara efektif kearah perwujudan visi.

Keputusan strategik menentukan keberhasilan suatu lembaga dalam pencapaian visinya, oleh karena itu sebuah keputusan strategic haruslah bersifat dan memenuhi karakteristik seperti :

1)      Keputusan strategik mencakup keseluruhan komponen organisasi, yang dapat dilakukan oleh manajemen puncak hingga karyawan;

2)      Keputusan strategik memerlukan daya dukung sumber-sumber yang cukup, baik SDM, financial, informasi, dan lain-lain;

3)      Keputusan strategik haruslah berdampak jangka panjang.

Perkembangan bidang pendidikan menggambarkan misi dan strategi popularisasi pendidikan yang menyebar pada pemerataan pendidikan, lebih jauh semakin dirasakan bahwa pembangunan sekolah-sekolah memiliki fungsi strategis bagi peningkatan kualitas warga negara, harkat dan martabat bangsa Indonesia.

Untuk memperbaiki mutu pencerdasan bangsa yang berkelanjutan, pelaksanaan pendidikan jalur sekolah melalui pendidikan dasar, pendidikan menengah dan tinggi, serta pendidikan jalur luar sekolah, perlu diintegrasikan aktivitasnya, sehingga lembaga pendidikan dijadikan sebagai pusat keunggulan (center of excellence) dalam pemberdayaan sumber daya manusia bangsa Indonesia. Oleh karena itu mutu pendidikan nasional haruslah selalu ditingkatkan sebagaiman yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional.

Untuk itu, agar pendidikan dapat menghasilkan lulusan yang memiliki nilai kompetitif dan kemampuan komparatif, perlu didukung dengan sistem pendidikan dan persekolahan yang berkualitas tinggi, perlu didukung dengan model pengelolaan yang bermutu pula.

  1. B.     TOTAL QUALITY MANAGEMENT (TQM)

3.1 pengertian

Menurut Salis (1993) TQM adalah sebagai suatu filosofi dan suatu metodologi untuk membantu mengelola perubahan, dan inti dari TQM adalah perubahan budaya dari pelakunya. Lebih lanjut Slamet (1995) menegaskan bahwa TQM adalah suatu prosedur dimana setiap orang berusaha keras secara terus menerus memperbaiki jalan menuju sukses. TQM bukanlah seperangkat peraturan dan ketentuan yang kaku, tetapi  merupakan proses-proses dan prosedur-prosedur untuk memperbaiki kinerja.

Menurut pendapat Plowman (1990) perilaku manejemen pendidikan menunjukkan bahwa lembaga pendidikan mengalami masalah dalam mengembangkan kualitas total karena menghadapi berbagai permasalahan. Perubahan kultural diidentifikasikan sebagai permasalahan utama, ketidakselarasan hubungan fungsional, komunikasi yang buruk di antara fungsi organisasi, dan sikap manejemen terhadap staf yang memperlakukan staf seolah-olah tidak mampu berpikir.

TQM menawarkan filosofi, metode dan strategi baru dalam perbaikan mutu pendidikan. Dengan demikian, pengertian lebih jelas esensi dari TQM (total quality management/manajemen mutu terpadu) adalah perubaha kultur (budaya). Perubahan kultur disini berupa menitik beratkan pada pelayanan yang bertujuan pemuasan pelanggan, karena pelanggan merupakan hal yang esensial bagi pengembangan dan perbaikan mutu secara berkelanjutan. Sehingga spectrum aktivitas manajemen mutu terpadu berorientasi pada upaya memperbaiki material dan jasa yang menjadi masukan organisasi, dan memperbaiki upaya (proses) dalam rangka memenuhi kebutuhan para pemakai produk/jasa pada masa kini dan dimasa yang akan datang.

Menurut Malcolm Munro (1991), bahwa “peranan manajemen mutu terpadu adalah memuaskan pelanggan internal maupun pelanggan eksternal melalui pencegahan serta mengurangi sebab-sebab kesalahan (Syafruddin, 2002:31) Hal ini dapat terjadi, karena manajemen mutu menawarkan tindakan personel yang benar sejak pertama kali dan berkelanjutan, ini suatu gambaran kata “total” berati “semua hal dan oleh semua orang”.

3.2 Pilar Total Quality Management (TQM)

Bill Creech, seorang jenderal berbintang empat berhasil menerapkan berbagai prinsip TQM, prinsip yang digunakanya dikenal dengan istilah lima pilar TQM yang terdiri atas produk,proses, organisasi, pemimpin, dan komitmen (Creech, 1996), hal ini digambarkan dalam diagram.

Lebih lanjut Creech menegaskan bahwa program TQM harus memenuhi empat kriteria agar dapat mencapai kesuksesan dalam implementasinya, yaitu :

  1. Program tersebut harus didasarkan pada kesadaran akan kualitas dan berorientasi pada kualitas dalam aktivitasnya, termasuk dalam setiap proses dan produk/jasa.
  2. Program tersebut harus memiliki sifat kemanusiaan yang kuat untuk menerjemahkan kualitas dalam cara memperlakukan karyawan, selalu diikutsertakan dan diberi inspirasi.
  3. Program TQM harus didasarkan pada pendekatan desentralisasi yang memberikan wewenang di semua tingkatan, terutama pada lini depan sehingga antusias keterlibatan dan tujuan bersama menjadi kenyataan dan bukan sekedar slogan.
  4. TQM harus diterapkan secara menyeluruh sehingga semua prinsip, kebijakan, dan kebiasaan mencapai setiap sudut dan celah-celah organisasi.

3.3  Karakteristik TQM

Goetsch dan Davis mengungkapkan sepuluh unsur utama (karakteristik) total quality management, sebagai berikut:

1. Fokus Pada Pelanggan

2. Obsesi Terhadap Kualitas

3. Pendekatan Ilmiah

4. Komitmen jangka Panjang

5. Kerja sama Team (Teamwork)

6. Perbaikan Sistem Secara Berkesinambungan

7. Pendidikan dan Pelatihan

8. Kebebasan Yang Terkendali

9. Kesatuan Tujuan

10. Adanya Keterlibatan dan Pemberdayaan Karyawan

3.4  Kendala-Kendala yang Harus Diatasi Ketika Memperkenalkan TQM

Untuk mengembangkan sebuah kultur mutu, diperlukan waktu dan kerja keras. Karena jika kedua hal tersebut tidak berjalan dengan baik, maka perjalanan mekanisme kerja mutu akan terhambat. TQM membutuhkan mental juara yang mampu mengahadapi tantangan dan perubahan dalam pendidikan. Peningkatan mutu merupakan proses yang membutuhkan kewaspadaan dan kehati-hatian. Karena diam di tempat saat para pesaing terus berkembang adalah tanda-tanda kegagalan.

TQM mengharuskan kesetiaan jangka panjang staf senior terhadap institusi. Karena, tidak tertutup kemungkinan manajemen senior sendiri bisa menjadi problem. Mereka bisa saja mengharapkan hasil positif yang dihasilkan TQM, namun tidak mau memberikan dukungan sepenuh hati yang diperlukan. Banyak inisiatif mutu yang tersendat-sendat disebabkan sikap manajer senior yang kembali pada metode manejemen tradisional. Kekhawatiran manajer senior dalam mengadopsi metode dan pendekatan yang baru adalah kendala utamanya. Hal ini merupakan rintangan atau kendala yang sangat serius. Ketika manajemen senior tidak mampu mendukung TQM, maka sangat kecil kemungkinan orang lain di organisasi tersebut akan mampu melaksanakannya.

Volume tekanan eksternal juga bisa menghalangi upaya sebuah organisasi dalam menerapkan TQM. Walaupun program-program mutu disampaikan dengan publikasi besar-besaran, seringkali program-program tersebut tergilas oleh inisiatif lain. Perlu dipastikan bahwa meskipun ada tekanan lain, mutu harus selalu menjadi prioritas utama dalam agenda. Dalam hal ini, perencanaan strategis memiliki peranan penting, untuk membantu staf memahami misi institusi dan menjembatani jurang dalam komunikasi.

Manajemen senior harus mempercayai stafnya untuk bersama-sama mengusung visi institusi mereka ke depan. Beberapa manajer senior terkadang tidak berbagi visi dengan para bawahan sebab mereka khawatir akan kehilangan status dan hal tersebut dianggap menurunkan derajat manajer. Ditambah lagi dengan ketakutan manajer senior untuk mendelegasikan bawahannya, maka peningkatan dan pengembangan mutu akan menjadi suatu yang mustahil.

Masalah utama yang sering dialami oleh banyak institusi adalah peran yang dimainkan oleh menejemn menengah. Mereka memiliki peran penting karena mereka adalah petugas operasional harian institusi dan bertindak sebagai petugas komunikasi yang sangat penting. Mereka bisa menjadi penghalang terjadinya perubahan, atau sebaliknya menjadi pemimpin. Mananjer menengah hanya bisa mendefinisikan hasil karyanya sebagai salah satu bentuk inovasi, jika manajer senior mengkomunikasikan kepada mereka visi dari sebuah masa depan baru. Manajer senior harus konsisten dalam bersikap dan bertindak ketika menganjurkan dan mengkomunikasikan pesan peningkatan mutu.

Para manajer bukan satu-satunya pihak yang bisa menghalangi pengembangan mutu. Beberapa staf yang terlalu khawatir salah terhadap konsekwensi pemberdayaan juga bisa menghalangi mutu. Mereka kadangkala cenderung suka terhadap hal-hal yang bersifat statis. Mereka perlu mendapatkan brainstorming pentingnya dan kegunaan perubahan. Untuk alasan ini, TQM tidak boleh menjadi sekedar jargon dan iklan.

 

3.5  Penerapan TQM dalam Manajemen Pendidikan

Jasa pendidikan memegang peranan vital dalam mengembangkan dan meningkatkan kulitas sumber daya manusia. Keberhasilan jasa pendidikan ditentukan dalam memberikan pelayanan yang berkualitas kepada para pengguna jasa pendidikan tersebut (siswa atau mahasiswanya/peserta didik. Jasa adalah meliputi segenap kegiatan ekonomi yang menghasilkan output (keluaran) berupa produk atau kontruksi (hasil karya) nonfisik, yang lazimnya dikonsumsi pada saat diproduksi dan member nilai tambah pada bentuk (form) seperti kepraktisan, kecocokan/kepantasan, kenyamanan, dan kesehatan, yang pada intinya menarik cita rasa pada pembeli pertama. Sementara itu, jasa pendidikan merupakan jasa yang bersifat kompleks karena bersifat pada karya dan padat modal. Artinya, dibutuhkan banyak tenaga kerja yang memiliki skill khusus dalam bidang pendidikan dan padat modal karena membutuhkan infrastruktur (peralatan) yang lengkap dan harganya cukup mahal.

3.6  Karakteristik Jasa Pendidikan

Jasa secara umum memiliki karakteristik utama sebagai berikut.

  1. Tidak berwujud (intangibility);
  2. Tidak terpisahkan (inseparability);
  3. Bervariasi (variability);
  4. Mudah musnah (perishabilit)

Lebih spesifik lagi menurut Kotler dan Fox dalam Rambat (2001:126) bahwa karakteristik jasa lembaga pendidikan antara lain sebagai berikut.

  1. Lembaga pendidikan termasuk jasa murni (pure services), dimana pemberian jasa yang dilakukan didukung alat kerja atau sarana pendukung semata, seperti ruangan kelas, kursi, meja dan buku-buku.
  2. Jasa yang diberikan lembaga pendidikan membutuhkan kehadiran pengguna jasa (siswa).
  3. Penerima jasa pendidikan adalah orang (people), jadi merupakan pemberian jasa yang berbasis orang.
  4. Hubungan antara lembaga pendidikan dengan pelanggan adalah berdasarkan member relationship, yaitu pelanggan telah menjadi anggota lembaga pendidikan tersebut

Menurut Herbert, Dellana, dan Bass (1995 dalam Sarwono dan Sudarsono, 1997), ada empat bidang utama dalam lembaga pendidikan yang dapat mengadopsi prinsip-prinsip TQM, yaitu :

  1. Penerapan TQM untuk meningkatkan fungsi-fungsi administrasi dan operasi lembaga pendidikan.
  2. Mengintegrasikan TQM dalam kurikulum.
  3. Penggunaan TQM dalam metode pembelajaran di kelas.
  4. Menggunakan TQM untuk mengelola aktivitas riset lembaga pendidikan.

Dalam manajemen lembaga pendidikan terdapat enam tantangan pokok yang perlu dikaji dan dikelola secara strategis dalam rangka menerapkan konsep TQM lembaga pendidikan, yakni berkenaan dengan :

  1. Dimensi kualitas jasa;
  2. Fokuspada pengguna jasa pendidikan
  3. Kepemimpinan;
  4. Perbaikan yang berkesinambungan;
  5. Manajemen SDM;
  6. Manajemen berdasarkan fakta

Hal ini sesuai dengan yang diamanatkan oleh Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun  2003 Bab III Pasal 4 ayat (6) menyatakan bahwa Pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen masyarakat melalui peran dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan pendidikan. Lebih lanjut dikatakan dalam Pasal 5 ayat (1) bahwa Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan bermutu.

 

3.7  Strategi Peningkatan Mutu Pendidikan

Strategi adalah tindakan utama yang terpilih untuk mewujudkan visi organisasi melalui misi (Mulyadi, 2001 : 72). Dengan demikian, strategi merupakan pola pengambilan keputusan dalam mewujudkan visi organisasi. Dengan tindakan berpola, perusahaan dapat menggerakan dan mengarahkan seluruh sumber daya organisasi secara efektif kearah perwujudan visi.

Keputusan strategik menentukan keberhasilan suatu lembaga dalam pencapaian visinya, oleh karena itu sebuah keputusan strategic haruslah bersifat dan memenuhi karakteristik seperti :

4)      Keputusan strategik mencakup keseluruhan komponen organisasi, yang dapat dilakukan oleh manajemen puncak hingga karyawan;

5)      Keputusan strategik memerlukan daya dukung sumber-sumber yang cukup, baik SDM, financial, informasi, dan lain-lain;

6)      Keputusan strategik haruslah berdampak jangka panjang.

Perkembangan bidang pendidikan menggambarkan misi dan strategi popularisasi pendidikan yang menyebar pada pemerataan pendidikan, lebih jauh semakin dirasakan bahwa pembangunan sekolah-sekolah memiliki fungsi strategis bagi peningkatan kualitas warga negara, harkat dan martabat bangsa Indonesia.

Untuk memperbaiki mutu pencerdasan bangsa yang berkelanjutan, pelaksanaan pendidikan jalur sekolah melalui pendidikan dasar, pendidikan menengah dan tinggi, serta pendidikan jalur luar sekolah, perlu diintegrasikan aktivitasnya, sehingga lembaga pendidikan dijadikan sebagai pusat keunggulan (center of excellence) dalam pemberdayaan sumber daya manusia bangsa Indonesia. Oleh karena itu mutu pendidikan nasional haruslah selalu ditingkatkan sebagaiman yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional.

Untuk itu, agar pendidikan dapat menghasilkan lulusan yang memiliki nilai kompetitif dan kemampuan komparatif, perlu didukung dengan sistem pendidikan dan persekolahan yang berkualitas tinggi, perlu didukung dengan model pengelolaan yang bermutu pula.

daftar PUSTAKA

Dr. Sudadio, M.Pd.2008.dimensi esensial manajemaan pendidikan.Serang:DBB Press

Rochaety, Eti; Rahayuningsih, Pontjorini;Yanti,Gusti Prima.2006.sistem informasimanajemen pendidikan.Jakarta:PT Bumi Aksara

http://suaidinmath.wordpress.com/2010/04/24/konsep-dasar-mpmbs/

http://asmoni-best.blogspot.com/2009/04/mpmbs-dan-penerapannya.html

http://dadampar.blogspot.com/2008/03/pelaksanaan-mbs-mpmbs.html

http://kafeilmu.co.cc/tema/bagaimana-partisipasi-masyarakat-dalam-implementasi-kebijakan-mpmbs.html

http://69jobs.co.cc/tag/konsep-manajemen-peningkatan-mutu-berbasis-sekolah-mpmbs

http://amikom.ac.id/research/index.php/karyailmiahdosen/article/view/254

http://aa-den.blogspot.com/2010/07/total-quality-management-tqm-dan.html

http://www.uns.ac.id/data/0022/pdf

http:// pakguruonline.pendidikan.net/mpmbs2.html

About Reza Ajie Saputra
I am a researcher of educational process. This blog has made to support my research.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s